Sabtu, 14 Agustus 2010

Laporan Pendahuluan Fraktur

a. Pengertian
Fraktur adalah : terputusnya hubungan / kontinuitas jarin¬gan tulang (Syamsuhidayat, 1997).
b. Etiologi terjadinya fraktur.
a. Trauma
1) Trauma langsung : kecelakaan lalu lintas
2) Trauma tidak langsung : jatuh dari ketinggian dengan berdiri atau duduk sehingga terjadi fraktur tulang belakang.
i. Karena suatu penyakit
Penyakit yang melemahkan tulang, misalnya metastase kanker atau osteomielitis.
Sedangkan pada fraktur metatarsal, biasanya karena menahan berat badan sewaktu jatuh atau terjatuh pada saat berjalan di medan yang kasar.
c. Patofisiologi
Tulang mengalami fraktur



Periosteum pembuluh darah di korteks marrow jaringan





Rusak



Terjadi perdara¬han dan kerusakan jaringan
.

Terbentuklah hema¬toma di canal medulla


Pembuluh-pembuluh kapiler dan jaringan ikat tumbuh


sel-sel tulang (osteoblast) menghasilkan Callus


profil tulang


melarutkan tulang
2. Tanda dan Gejala
a. Deformitas, dapat berupa :
1) Angulasi
Karena adanya kekerasan mengakibatkan otot-otot ekstremitas menarik patahan tulang.
2) Pemendekan tonus otot-otot ekstremitas menarik patahan tulang, sehingga ujung patahan saling bertumpuk.
b. Nyeri
Nyeri tekan dan pembengkakan di sekitar bagian fraktur. Jika frakturnya terbuka ujung patahan tulang dapat terlihat di dalam luka.
c. Krepitasi
Rasa gemeretak ketika ujung tulang bergeser.
d. Oedema
e. Echymosis
f. Fungsileosa ( gangguan fungsi)
g. spasme otot
h. Kemungkinan lain :
1) kehilangan sensasi
2) mobilisasi yang abnormal
3) Hypovolemik shock
3. Komplikasi
a. Segera ( immediate)
Komplikasi yang dapat terjadi segera setelah fraktur antara lain, shock neurogenik, kerusakan organ, kerusakan syaraf, dan injury / perlukaan kulit,
b. Early complication
Early komplikasi yang dapat terjadi : osteomyelitis, emboli, tetanus, nekrosis, dan sindroma compartement.
c. Late complication
Sedangkan komplikasi lanjut yang dapat terjadi antara lain stiffnes ( kaku sendi), degenerasi sendi, penyembuhan tulang terganggu ( mal union, non union, delayed union, dan cross union).
4. Pemeriksaan diagnostik
a. Laboratorium
Hb, Ht, leuco, LED, Ca dan P
b. Radiologi :
1) Untuk melihat beratnya cedera/ lokasi
2) Untuk melihat perkembangan tulang.

c. CT Scan :
1) Prosedur yang digunakan untuk melihat gambaran otak dari berbagai sudut kecil dari tulang tengkorak.
2) Mendeteksi struktur fraktur yang kompleks
d. MRI ( Magnetik Resonance Imaging )
1) Untuk melihat / mengetahui gambaran otak melalui informasi hidrogen proton dengan menggunakan ruang magnetik yang besar sehingga gambaran pembuluh darah, saraf dan otak lebih jelas.
2) Mengidentifikasi masalah pada otot, tendon & legamen.
5. Penatalaksanaan
Kesembuhan fraktur dapat dibantu oleh aliran darah yang baik dan stabilitas ujung patahan tulang.
e. Reposisi
Setiap pergeseran atau angulasi pada ujung patahan harus direposisi dengan hati-hati melalui tindakan manipulasi yang biasanya dilakukan dengan anesthesi umum.
f. Imobilisasi
Imobilisasi untuk memungkinkan kesembuhan fragmen yang dipersatukan
1) Fiksasi eksterna.
Fraktur diimobilisasi dengan bidai atau gips dan traksi.
Penggunaan gips dan traksi
a) Penggunaan gips
Secara umum, gips digunakan untuk mempertahankan reduksi, namun harus melewati sendi di atas dan di bawah fraktur. gips sebaiknya tidak berlaminasi dan sesuai dengan geometri tulang yang diberi gips tersebut. Dengan membalut plester yang lunak di atas tonjolan tulang biasanya dapat mencegah timbulnya ulserasi tekanan dan dapat memaksimalkan kemampuan gips tersebut untuk mempertahankan posisi fragmen fraktur.
Reduksi dan pemasangan gips seringkali dapat di selesaikan dalam jam sesudah terjadi cedera.. Yaitu saat pembengkakan jaringan lunak belum maksimal. selain itu proses reduksi juga dapat memberberat edema jaringan yang sudah ada. Namun karena gips dipasang berbentuk melingkar, mengelilingi seluruh ekstremitas, maka suplai darah dan syaraf ke ekstremitas yang cedera harus benar benar diperhatikan. ekstremitas harus diletakkan lebih tinggi bagian distal ekstremitas yang mengalami cedera harus diperiksa berulang ulang guna mengawasi perkembangan nyeri, kepucatan parestesi dan lenyapnya denyut nadi , semua ini adalah tanda-tanda dari disfungsi neurovaskuler.
Semua keluhan penderita yang tetap dirasakan setelah reduksi harus benar-benar mendapat perhatian. Tekanan suplai darah dapat menimbulkan perubahan patologik yang tidak reversible bila dibiarkan selama satu setengah jam. Pada beberapa jam pertama setelah terjadi cedera, pemberian obat-obat narkotik secara berulang-ulang adalah suatu kontraindikasi. Hal ini dapat menghilangkan nyeri lyang timbul dari nekrosis jarin¬gan.

Tujuan pengunaan gips adalah :
1. Mengimobilisasi , mensupport, melindungi selama proses penyem¬buhan tulang patah.
2. Mencegah dan memperbaiki deformitas.
Indikasi pemasangan gips:
Macam-macam gips : short leg, long leg, silinder, short arm, hip spica.
Yang perlu diperhatikan pada pemasangan gips:
1. Gips yang tidak pas dapat menimbulkan perlukaan.
2. Bila sudah parah, gips tidak dapat digunakan lagi.
3. Gips tidak boleh longgar atau terlalu kecil.
4. Perhatikan integritas kulit selama pemasangan gips.
b) Penggunaan Traksi
Metode lain yang baik untuk mempertahankan reduksi ekstremitas yang mengalami fraktur adalah dengan traksi. Traksi dilakukan dengan menempelkan beban dengan tali pada ekstremitas biasanya lebih disukai traksi rangka dengan pin baja steril yang dimasuk¬kan melalui fragmen distal atau tulang yang lebih distal melalui pembedahan, bukan dengan traksi kulit. Bentuk bentuk traksi biasanya akan membuat ekstremitas yang patah terangkat lebih tinggi sehingga dapat mengurangi pembengkakan dan meningkatkan penyembuhan jaringan lunak.
Sewaktu memasang atau mempertahankan traksi ada beberapa faktor penting yang harus dipertimbangkan:
1) Tali utama. dipasang paha kiri rangka sebaiknya menimbulkan gaya tarik yang segaris dengan sumbu panjang normal tulang pan¬jang yang patah.
2) Berat ekstremitas maupun alat-alat penyokong sebaiknya seimban¬gan dengan pemberat untuk menjamin agar reduksi dapat dipertahan¬kan secara stabil dan mendukung ekstremitas yang patah.
3) Ada tulang yang menonjol sebaiknya diberi lapisan khusus dan terlindung dengan baik.
4) Traksi dapat bergerak bebas melalui katrol
5) Pemberat harus cukup tinggi diatas permukaan lantai dengan klien dalam posisi normal diatas tempat tidur sehingga perubahan posisi rutin tidak menyebabkan pemberat terletak dilantai sehing¬ga kehilangan regangan tali.
6) Traksi yang dipasang harus baik dan terasa nyaman
Keuntungan memakai traksi :
2) menurunkan nyeri spasme.
3) mengoreksi dan mencegah deformitas.
4) mengimobilisasi sendi yang sakit.
5) therapi luntuk arthritis cedera otot dan ligamen, dislokasi kompresi serabut saraf tulang belakang.
Kerugian penggunaan traksi :
1) perawatan rumah sakit lebih lama
2) mobilisasi terbatas.
3) perlu penggunaan alat-alat yang banyak
4) Indikasi penggunaan traksi :
Tujuan Traksi:
1) Mempertahankan/ memperbaiki alignment tulang paska fraktur.
2) Mengistirahatkan sendi yang implamasi
3) Koreksi deformitas.
4) Menghilangkan nyeri karena spasmeotot.
5) Mengurangi dislokasi sendi.
Prinsip-prinsip:
1) adekuat counter traksi
2) adanya kekuatan melakukan beban traksi
3) sesuai dengan poros
4) semua sistem harus bebas dari fiksi / tersangkut
5) klien teriformasi
6) penilaian terus menerus terhadap kepatenan traksi
7) Observasi neurovaskuler
8) observai adanya nyeri
9) firm matters untuk good aligment.
10) Perineal care yang benar.
11) Hindari komplikasi tirah baring.
Rumus untuk pemberian traksi :
1) dewasa 1/3 x BB
2) anak-anak 1/13 x BB
2) Fiksasi interna / pembedahan.
Fiksasi dilakukan dengan menyatukan patahan tulang dengan memasang plate, wire atau sekrup dengan tindakan operasi.
a) Open Reduksi intra fiksasi (ORIF)
Pembedahan reduksi terbuka pada patah tulang keuntungannya tulang yang patah dapat terlihat. Demikian juga jaringan sekitar. Fiksasi internal dilaksanakan dalam tehnik asepsis yang sangat ketat dan klien untuk beberapa saat mendapat antibiotik untuk pence¬gahan setelah pembedahan.
Alat-alat fiksasi internal adalah :
1. Pelat dan skup seperti neufeld dan kuntscher.
2. Transfixian screw / skreu tembus.
3. Intermedullary rod / batang menembus sumsum.
4. Prostetic implans / pencangkokan alat prostetik, seperti austin moore protesis.
Teknik Pembedahan :
1) Insisi daerah yang mengalami cidera diteruskan sepanjang bidang anatomi menuju tempat yang fraktur.
2) Fraktur diperiksa dengan teliti.
3) Hematom fraktur dan fragmen-fragmen yang telah mati diirigasi dari luka.
4) Fraktur kemudian direposisi dengan tangan agar menghasilkan posisi yang normal kembali.
5) Sesudah reduksi kemudian fragmen-fragmen tulang dipertahankan dengan alat orthopedik ( seperti disebut diatas ) sesuai dengan kebutuhan.
b) Debridement
Pembersihan luka fraktur terbuka dari jaringan nekrotik. adanya jaringan nekrotik di sekitar luka akan memperlambat proses pen¬yembuhan.
c) Transplantasi tulang
Jarang dilakukan, tapi adakalanya dilakukan pada faktur dimana tulang tidak dapat lagi disatukan ( hancur ). Untuk mempertahan¬kan keutuhan organ tubuh digunakantransplantasi tulang. Ini akan juga mempengaruhi kerja otot terhadap tulang.
g. Fisiotherapi dan mobilisasi
Fisiotherapi dilakukan untuk mempertahankan supaya otot tidak mengecil. Setelah fraktur mulai sembuh mobilisasi sendi dapat dimulai sampai ekstremitas betul-betul telah kembali normal.
Fungsi penyangga badan (Weight Bearing ) diperbolehkan setelah terbenuk cukup callus.
Prinsip pengobatan yang diberikan sesuai dengan jenis dan kondisi fraktur. Prinsip pengobatannya antara lain antibiotik, analgetik, toxoid, antipiretik, dan biasanya ditambah dengan suplemen vitamin.
a) Antibiotik
Pengobatan antibiotik pada fraktur tidaklah spesifik, keefektifan pengobatan ditentukan oleh :
1) kontaminasi kuman terhadap luka.
2) adanya penyakit lain yang memper¬berat dan mempermudah terjadinya fraktur.
Penyakit yang dapat memperberat dan mempermudah terjadinya frak¬tur :
1) osteomyelitis acute
2) osteomyelitis kronik
3) osteomalacia
4) osteo porosis
5) gout dan gouty
6) rheumatoid arthritis.
Therapi antibiotik yang digunakan umumnya antibiotika berspektrum luas yang dapat membunuh kuman gram negatif dan gram positif.
Contoh : Streptococcus aureus, staphylacoccus, preudomonas clos¬tridium tetani dan lain-lain.
Pada fraktur terbuka umumnya luka kontak dengan udara luar yang banyak ditemukan bakteri gram positif dan gram, negatif. Pada fraktur tertutup jarang terjadi kontak langsung dengan udara luar. Pemberian antibiotika digunakan untuk menghambat terjadi infeksi lokal dan sistemik dapat digunakan antibiotika dengan spektrum luas.
Golongan antibiotik yang biasanya digunakan.
golongan penicillin
1) amoxicillin
2) ampicillin trihidrate
golongan aminoglikosida
1) amikasin sulfat
2) tobramicin sulfat
3) gentamicin sulfat 4) kanamicin sulfat
5) neomicin sulfat
6) nerilmicin sulfat
golongan cefalosporin :
1) ceftriasone disodium
2) cefadroxyl monohidrat
3) ceftibuten dihidrate
4) cefalexin monohidrat

golongan chloramphenicol
1) thiamphenicol
2) cholampenicol sympalmitate
golongan tetracycline
1) tetracycline Hcl
2) tetracycline phospate
3) tetracycline nyclate
Pemberian antibiotika ditentukan dari hasil pemeriksaan mikrosko¬pik dan makroskopik laboratorium melalui peningkatan leukosite, LED dan hasil pemeriksaan kultur darah dan resistensi kuman terhadap golongan antibiotika tertentu
b) Analgetik
Diberikan untuk mengurangi rasa sakit yang timbul akibat trau¬ma. Nyeri yang timbul dapat menyebabkan klien gelisah sampai dengan shock, yang dikenal dengan shock analgetik. Ungkapan rasa nyeri dan ketidaknyamanan, obat yang paling baik ditemukan adalah salisilate. sodium salisilat dapat digunakan, secara umum dalam bentuk aspirin ( asetil salicilat asam )
Tujuan dari therapi aspirin adalah untuk mengatur kemempuan dosis obat sebagai efek anti inflamasi , sama baiknya dengan analgetik untuk mendapatkan efek ini, aspirin harus diminum setiap hari sesuai dengan kebutuhan individu dan pada beberapa orang boleh diberikan dosis ganda untuk efek yang diinginkan.secara umum efek samping : tinitus dan penurunan pendengaran yang reversible setelah obat bekerja . Iritasi lambung memungkinkan kehilangan darah sedikit melalui saluran gastrointestinal akan dijumpai pada beberapa klien --> menimbulkan anemia ringan . Klien dengan iritasi lambung, jika diberi aspirin harus dikombi¬nasi dengan antasid.
Jika perlu analgetik yang kuat, profoxyphene yang mengandung kodein, sedikit menyebabkan ketergantungan dan tidak memiliki side efek. Phenylbutazone, kadang-kadang digunakan untuk analgetik dan inflamasi, tapi efeknya ltidak lebih tianggi dari salisilat dan lebih tinggi menimbulkan reaksi keracunan. Kembalinya gejala terjadi jika obat dihentikan, jika penggunaan diberikan peroral dengan dosis 100 mg --> 2-4 kali/hari..
B. Konsep Asuhan Keperawatan
Dalam melaksanakan asuhan keperawatan terhadap pasien, perawat memandang pasien sebagai individu yang utuh terdiri dari bio, psiko, sosial dan spiritual, mempunyai kebutuhan sesuai tingkat pertumbuhan dan perkembangannya.
Griffith-Kenney dan Christensen (1986) mendefinisikan proses keperawatan sebagai aktifitas yang logis dan rasional untuk melakukan praktek keperawatan secara sistematis. “Proses keperawatan terdiri dari lima tahap : pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.”
1. Pengkajian
Pengkajian adalah langkah awal dan dasar bagi seorang perawat dalam melakukan pendekatan secara sistematis untuk mengumpulkan data dan menganalisa sehingga dapat diketahui kebutuhan pasien terse-but. Pengumpulan data yang akurat dan sistematik akan membantu me¬nentukan status kesehatan dan pola pertahanan pasien serta memudahkan perumusan diagnosa keperawatan.
Tahap pengkajian terdiri atas tiga kegiatan yaitu :
a. Pengumpulan data
Pengumpulan data dilakukan secara sistematis, bertujuan untuk mendapatkan data yang penting tentang pasien dengan cara wawancara, observasi dan pemeriksaan fisik.
1) Identitas pasien dan keluarga
a) Nama Pasien, umur/tanggal lahir, jenis kelamin, agama.
b) Nama ayah, umur, agama, pekerjaan, pendidikan, kultur, alamat.
c) Nama ibu, umur, agama, pekerjaan, pendidikan, kultur, alamat.
d) Saudara kandung, anak ke, nama, umur, pendidikan, dan keterangan.
b. Kesehatan fisik
1. Kebiasaan sehari-hari :
a) Pola nutrisi : Bagaimana kebiasaan klien dalam memenuhi nutrisi, frekuensi makan, jumlah, dan makanan tambahan.
b) Pola eliminasi : Kebiasaan BAB/BAK, apakah obstipasi dan bagaimana ciri faeces, konsistensi, warna, bau dan mulai kapan.
c) Pola tidur : Kebiasaan tidur sehari-hari (jam tidur, lama tidur)
d) Pola aktifitas : Kegiatan sehari-hari, mengisi waktu luang, dan lain-lain.
e) Pola dalam hygiene : kebiasaan mandi, menyikat gigi, memotong kuku, rambut, dan lain-lain.


c. Riwayat kesehatan masa lampau
Apakah pernah dirawat di rumah sakit, sakit waktu kecil, pernah mendapatkan obat-obatan atau tindakan operasi, alergi obat dan makanan, pernah mengalami kecelakaan.
d. Riwayat kesehatan keluarga
Apakah keluarga ada yang menderita sakit menular pada saat ini, apakah keluarga mempunyai penyakit keturunan yang memerlukan perawatan.
e. Riwayat perjalanan penyakit :
1) keluhan utama klien datang ke RS atau tempat pelayanan keseha¬tan
2) apa penyebabnya, kapan terjadi kecelakaan atau trauma
3) bagaimana dirasakan, adanya nyeri, panas, bengkak, dan lain-lain.
4) perubahan bentuk, terbatasnya gerakan.
5) kehilangan fungsi
6) apakah klien ada riwayat penyakit osteoporosis.
f. Riwayat pengobatan sebelumnya.
1) apakah klien pernah mendapatkan pengobatan jenis corticosteroid dalam jangka waktu yang lama
2) apakah klien pernah menggunakan obat-obat hormonal, terutama pada wanita.
3) berapa lama klien mendapatkan pengobatan tersebut
4) kapan klien mendapatkan pengobatan terakhir
g. Proses pertolongan pertama yang dilakukan
1) pemasangan bidai sebelum memindahkan klien dan pertahankan gerakan di atas / di bawah tulang yang fraktur sebelum dipindah¬kan
2) tinggikan ekstremitas untuk mengurangi edema
3) bila fraktur terbuka, hentikan perdarahan dan tutup luka dengan kain yang bersih.
4) bila fraktur tertutup, jangan merubah posisi fraktur karena akan memperberat keadaan.
5) kirim untuk pertolongan emergensi
6) pantau daerah yang cedera dalam periode waktu pendek, luntuk melihat perubahan warna, dan suhu.
h. Pemeriksaan fisik
a. Mengidentifikasi tipe fraktur ( komplit, inkomplit, dan lain-lain).
b. Inspeksi daerah mana yang terkena:.
1) deformity yang nampak jelas
2) edema , ekimosis sekitar lokasi cedera
3) laserasi
4) perubahan warna kulit
5) kehilangan fungsi daerah lyang cedera
c. Palpasi :
1) bengkak, adanya nyeri dan penyebaran
2) krepitasi
3) nadi, dingin
4) observasi spasme otot sekitar daerah fraktur
5) terpasang alat immobilisasi pada lokasi cedera.
d. Kapan terjadinya cidera/kecelakaan, pernah berobat kemana saja, bagaimana awal terjadinya, tindakan apa saja yang telah dilaukan.
e. Keluhan utama : adanya rasa nyeri, luka terbuka, bentuk tulang yang tidak normal.
f. Pengobatan : usaha yang dilakukan orang untuk kesembuhan pasien membawanya ke Puskesmas/rumah sakit/petugas kesehatan dan apa obat yang diberikan.
b. Analisa data
Menghubungkan data yang diperoleh dengan konsep, teori, prinsip yang relevan untuk mengetahui masalah kesehatan pasien, dilakukan pengesahan data, pengelompokan data, membandingkan dengan standar, menentukan kesenjangan, membuat kesimpulan tentang kesenjangan selanjutnya dapat dirumuskan diagnosa keperawatan.
2. Diagnosa keperawatan
Menurut Carpenito (1992) mendefinisikan diagnosa keperawatan adalah : “ Pernyataan yang menjelaskan status kesehatan atau masalah aktual atau potensial. Perawat menggunakan proses keperawatan dalam mengidentifikasi dan mensintesa data klinis dan menentukan intervensi keperawatan, untuk mengurangi, menghilangkan, atau mencegah masalah klien yang ada pada tanggungjawabnya”.
Adapun diagnosa keperawatan yang timbul pada pasien dengan fraktur menurut buku Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi III oleh Marillin E. Doenges, Dkk adalah sebagai berikut :
1. Resiko terjadi trauma berhubungan dengan kehilangan integritas tulang ( fraktur).
2. Nyeri berhubungan dengan spasme otot, pergerakan fragmen tulang, oedem, trauma pada jaringan lunak, stress, cemas.
3. Resiko terjadi disfungsi neuromusculer periferal berhubungan dengan trauma jaringan, oedema, yang berlebihan, adanya trobus, hipovolemia, terhambatnya aliran darah.
4. Resiko terjadi gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan peredaran darah / emboli lemak, perubahan membran alveo¬lar / capiler.
5. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan neuromus¬cular, nyeri, restriktif terapi, imobilisasi.
6. Resiko terjadi gangguan integritas kulit / jaringan berhubungan dengan adanya fraktur pemasangan gips / traksi, gangguan sirkula¬si.
7. Resiko terjadi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan primer ( rusak kulit, jaringan prosedur invansif, traksi tulang ).
8. Kurangnya pengetahuan tentang kondisi, prognosa dan pengoba¬tan berhubungan dengan kurangnya penjelasan, salah menafsirkan informasi, tidak terbiasa dengan sumber informasi.
3. Perencanaan
Setelah merumuskan diagnosa keperawatan, maka disusunlah peren¬canaan keperawatan. Perencanaan adalah tahap ketiga dari proses keperawatan, yang dimulai setelah data-data yang terkumpul sudah dianalisa. Pada bagian ini ditentukan sasaran yang akan dicapai dan rencana tindakan keperawatan dikembangkan. Tahapan dalam perenca¬naan ini terdiri dari :
a. Menetapkan prioritas masalah berdasarkan pola kebutuhan dasar manusia menurut hirarki Maslow.
b. Merumuskan tujuan keperawatan yang akan dicapai
c. Menetapkan kriteria evaluasi
d. Merumuskan intervensi keperawatan dan aktifitas keperawatan.
Dari diagnosa keperawatan yang telah disusun di atas, maka rencana tindakan keperawatannya adalah sebagai berikut :
1. Resiko terjadi trauma berhubungan dengan kehilangan integritas tulang ( fraktur).
Hasil yang diharapkan :
1) Mempertahankan stabilisasi dan aligment fraktur.
2) Mendemonstrasikan mekanika tubuh untuk mempertahankan stabili¬tas dan posisi tubuh.
3) Menunjukkan pertumbuhan callus yang baru pada bagian fraktur.
Rencana Tindakan
1) Anjurkan bed rest dengan memberikan penyangga saat mencoba menggerakkan bagian yang fraktur.
Rasional :
Meningkatkan kemampuan, mereduksi kemungkinan pengobatan.
1. Letakkan klien pada tempat tidur ortopedis.
Rasional :
Kelembutan dan kelenturan alas dapat mempengaruhi bentuk gips yang basah.
2. Beri sanggahan pada fraktur dengan bantal, pertahankan posisi netral dengan menahan bagian yang fraktur dengan bantalan pasir, bidai, trochanter roll, papan kaki.
Rasional :
Mencegah gerakan yang tidak perlu dan gangguan pada allignment. Penempatan bantal yang tepat dapat mencegah penekanan sehingga menghindari deformitas pada gips.
3. Evaluasi pergerakan bidai untuk menghindari edema.
Rasional :
Bidai mungkin digunakan luntuk memberikan immobi¬lisasi pada fraktur dan untuk mencegah terjadinya bengkak pada jaringan. Edema akan hilang dengan pemberian bidai.
5) Pertahankan posisi dan integritas dari traksi.
Rasional :
Tarikan pada traksi dilakukan pada tulang panjang yang fraktur dan kemudian menjadikan otot tegang sehingga memu¬dahkan aligment.
6) Pastikan bahwa semua klem/ penjepit berfungsi. Minyaki katrol dan cek tali.
Rasional :
Menjamin traksi dapat dipergunakan dan menghin¬dari gangguan pada fraktur.
7) Cek kembali pembatasan therapi yang diberikan.
Rasional :
Menjaga integritas tarikan pada traksi.
8) Follow up pemeriksaan X-Ray.
Rasional :
Mengetahui proses tumbuhnya callus untuk menentu¬kan tingkat aktivitas l dan memerlukan perubahan atau tambahan therapi.
9) Pertahankan fisiotherapi jika perlu.
Rasional :
Membantu menguatkan pertumbuhan tulang dalam masa penyembuhan.
2. Nyeri berhubungan dengan spasme otot, pergerakan fragmen tu¬lang, edema, traksi / immobilisasi karena penggunaan alat, stress dan kecemasan.
Rencana Tindakan :
1) Lakukan imobilisasi ( bed rest, gips, bidai, traksi ).
Rasional :
Mengurangi lnyeri dan mencegah perubahan posisi tulang serta luka pada jaringan.
2) Tinggikan dan sangga daerah luka.
Rasional :
Meningkatkan aliran vena, mengurangi edema dan mengur¬angi nyeri.
3) Hindari penggunaan sprei plastik/ bantal dibawah gips.
Rasional :
Menyebabkan rasa tidak nyaman karena menambah panas pada gips.
4) Tinggikan bagian depan tempat tidur.
Rasional :
Memberikan rasa nyaman.
5) Evaluasi rasa nyeri lokasi dan karekteristik termasuk in¬tensitas ( skala 0 - 10 ). Perhatikan juga rasa nyeri non verbal ( periksa tanda vital dan emosi / tingkah laku ).
Rasional :
Monitor keefektifan intervensi. Tingkat kecemasan dapat menunjukkan reaksi dari nyeri.
6) Diskusikan masalah yang berhubungan dengan injury.
Rasional :
Menolong mengurangi kecemasan.
7) Terangkan prosedur sebelum memulai.
Rasional :
Mengijinkan klien untuk mempersiapkan mental agar dapat berpartisipasi dalam aktivitas.
8) Beri pengobatan sesuai terapi sebelum melakukan aktivitas perawatan.
Rasional :
Meningkatkan relaksasi otot agar dapat berpartisipasi.
9) Lakukan latihan range of motion.
Rasional :
Mempertahankan kemampuan otot dan menghindari pembeng¬kakan pada jaringan yang luka.
10) Lakukan tindakan untuk meningkatkan rasa nyaman dengan masase, perubahan posisi.
Rasional :
Memperbaiki sirkulasi umum, mengurangi tekanan pada satu tempat dan kelelahan otot.
11) Anjurkan klien untuk menggunakan teknik relaksasi ( latih nafas dalam).
Rasional :
Meningkatkan sense of control dan mungkin dapat me¬ningkatkan kemampuan mengurangi rasa nyeri.
3. Resiko terjadi gangguan integritas kulit / jaringan berhubungan dengan compound fracture, pemasangan traksi, gangguan sensasi , sirkulasi, immobilisasi fisik.
Rencana Tindakan :
1) Periksa kulit sekitar luka , kemerahan, perdarahan, perubahan warna kulit.
Rasional :
Memberikan informasi gangguan sirkulasi kulit dan masalah-masalah yang mungkin disebabkan oleh penggunaan traksi, terbentuknya edema
2) Masase kulit dan tempat yang menonjol, menjaga alat tenun tetap kering , memberikan alas yang lembut pada siku dan tumit.
Rasional :
Mengurangi penekanan pada daerah yang mudah terkena dan resiko untuk lecet dan rusak.
3) Rubah posisi selang-seling sesuai indikasi.
Rasional :
Mengurangi penekanan yang terus menerus pada posisi tertentu
4) Kaji posisi splint ring traksi.
Rasional :
Salah posisi akan menyebabkan kerusakan kulit.
5) Pakai bed matras / air matras.
Rasional :
Mencegah perlukaan setiap anggota tubuh, dan untuk anggota tubuh yang kurang gerak efektif untuk mencegah penurunan sirkulasi.
4. Resiko terjadi destruksi neuromuskuler periferal berhubungan dengan trauma jaringan, edema yang berlebihan, adanya trombus, hypovolemia, terhambatnya aliran darah
Hasil yang diharapkan:
1) Mempertahankan perfusi jaringan yang ditandai dengan terabanya pulsasi
2) Kulit hangat dan kering .
3) Perabaan normal
4) Tanda vital stabil.
5) Urin output yang adekuat.
Rencana Tindakan :.
1) Lepas perhiasan pada daerah yang mengalami ganggguan
Rasional :
Dapat membatasi bila terjadi oedema.
2) Evaluasi adanya kualitas / kualitas dari pulsasi perifer distal yang luka melalui palpasi / doppler. Bandingkan dengan sisi yang normal .
Rasional :
Berkurangnya / tidak adanya pulsasi menggambarkan adanya pembuluh darah yang luka dan memerlukan evaluasi status sirkulasi yang segera. Perlu disadari bahwa kadang -kadang pulsasi dapat teraba walaupun sirkulasi terhambat oleh sumbatan kecil. Sebagai tambahan, perpusi melalui arteri yang besar dapat berlanjut setelah menambah tekanan dari sirkulasi arteriol / venol yang kolaps.
2) Kaji kembalinya kapiler, warna kulit dan kehangatan bagian distal dari fraktur.
Rasional :
Kembalinya warna dengan cepat ( 3-5 detik ) putih. Kulit yang dingin menandakan lemahnya aliran arteri. Sianosis menandakan lemahnya aliran vena .
Pulsasi perifer, kembalinya kapiler, warna kulit dan rasa dapat normal terjadi dengan adanya syndrome comparmental karena sirkulasi permukaan sering kali tidak sesuai.
3) Kaji status neuromuskuler, catat perubahan motorik/ fungsi sensorik. Tanyakan kepada klien lokasi nyeri/ tidak nyaman.
Rasional :
Lemahnya rasa, kebal, meningkatnya/ penyebaran rasa sakit terjadi ketika sirkulasi ke saraf tidak adekuat atau adanya trauma pada saraf.
4) Tes sensasi dari syaraf peroneal dengan mencubit dorsal diantara jari kaki pertama dan kedua. Kaji kemampuan dorso fleksi jari-jari kaki.
Rasional :
Panjang dan posisi syaraf peroneal meningkatkan resiko terjadinya injury dengan adanya fraktur di kaki, oedema/ comparmental syndrome atau malposisi dari peralatan traksi.
5) Monitor posisi/ lokasi ring penyangga bidai
Rasional :
Peralatan traksi dapat menekan pembuluh darah atau syaraf, khususnya diaksila atau daerah selangkang, menyebabkan iskemik dan luka permanent.
6) Pertahankan elevasi dari ekstermitas yang cedera jika tidak kontraindikasi dengan adanya compartemen syndrome.
Rasional :
Mencegah aliran vena/ mengurangi oedema
4. Pelaksanaan
Merupakan pelaksanaan rencana tindakan keperawatan yang telah ditentuan agar kebutuhan pasien terpenuhi secara optimal. Pelaksanaan tindakan keperawatan dapat dilaksanakan sebagian oleh pasien, perawat secara mandiri, atau bekerjasama dengan tim kesehatan lain. Dalam hal ini perawat adalah sebagai pelaksana asuhan keperawatan yaitu memberikan pelayanan perawatan dengan menggunakan proses keperawatan. Adapun langkah-langkah dalam tindakan keperawatan terdiri dari tiga tahap yaitu persiapan, pelaksanaan dan dokumentasi.
Pada tahap persiapan, perawat harus memiliki keterampilan khusus dan pengetahuan untuk menghindari kesalahan dalam memberikan tindakan keperawatan pada pasien. Sebelum dilakukan tindakan keperawatan, perawat terlebih dahulu memberitahukan dan menjelaskan tentang maksud dan tujuan serta akibat tindakan yang akan dilakukan.
Tahap pelaksanaan merupakan tindakan yang akan dilakukan sesuai dengan rencana dalam rangka mengatasi masalah keperawatan yang ada.
Tahap dokumentasi yaitu tahap tindakan keperawatan yang telah di¬lakukan baik kepada pasien ataupun keluarga, dicatat dalam catatan keperawatan. Pada pendokumentasian ini harus lengkap meliputi tang¬gal, jam pemberian tindakan, jenis tindakan, respon pasien, paraf serta nama perawat yang melakukan tindakan. Menurut Yoseph tahun 1994 “Pendokumentasian sangat perlu untuk menghindari pemutarbalikan fakta, untuk mencegah kehilangan informasi dan agar dapat dipelajari oleh perawat lain. Semua tahap dalam proses keperawatan harus di¬dokumentasikan.” Beberapa faktor dapat mempengaruhi pelaksanaan rencana asuhan keperawatan, antara lain sumber-sumber yang ada, pengorganisasian pekerjaan perawat serta lingkungan fisik untuk pelayanan keperawatan yang dilakukan.
5. Evaluasi
Tahap evaluasi dalam proses keperawatan menyangkut pengumpulan data subyektif dan obyektif yang menunjukkan mengenai tujuan asuhan keperawatan sudah dapat dicapai atau belum, masalah apa yang sudah dipecahkan dan apa yang perlu dikaji lagi, direncanakan, dilaksanakan.
Evaluasi merupakan tahap akhir proses keperawatan yang merupakan aktifitas berkesinambungan dari tahap awal (pengkajian) sampai tahap akhir (evaluasi) dan melibatkan pasien/keluarga. Evaluasi bertujuan untuk menilai efektifitas rencana dan strategi asuhan keperawatan. Evaluasi terdiri dari evaluasi proses, untuk menilai apakah prosedur dilakukan sesuai dengan rencana dan evaluasi hasil berfokus kepada perubahan perilaku dan keadaan kesehatan pasien sebagai hasil tindakan keperawatan.
Ada tiga alternatif dalam menafsirkan hasil evaluasi yaitu :
a. Masalah teratasi
Masalah teratasi apabila pasien menunjukkan perubahan tingkah laku dan perkembangan kesehatan sesuai dengan kriteria pencapaian tu¬juan yang telah ditetapkan.
b. Masalah sebagian teratasi
Masalah sebagian teratasi apabila pasien menunjukkan perubahan dan perkembangan kesehatan hanya sebagian dari kriteria pencapaian tu¬juan yang telah ditetapkan.
c. Masalah belum teratasi
Masalah belum teratasi, jika pasien sama sekali tidak menunjukkan perubahan perilaku dan perkembangan kesehatan atau bahkan timbul masalah yang baru.
















DAFTAR PUSTAKA

Arif, Mansoer, et all, (1999), Kapita Selecta Kedokteran, Jakarta , Media Aesculapius.

Doengoes, Marilyn et all (2000), Rencana Asuhan Keperawatan ed. 3 Jakarta, EGC.

A. Price, Sylvia. (1995). PATOFISIOLOGI : Konsep klinis proses-proses penyakit. Ed. 4. Jakarta : EGC.

Brunner and Suddarth. (2002). Keperawatan Medikal Bedah. Ed. 8. Vol. 2. Jakarta : EGC.

Cambridge Comunication Limited. (1999). Anatomi fisiologi system pernapsan dan kardiovaskuler. Ed.2. Buku 4. Jakarta : EGC.

Talbol, Laura A, (1997), Pengkajian keperawatan kritis ed. 2, Jakarta, EGC.

Price Sylvia A, (1995), Patafisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Buku II ed. IV, Jakarta, EGC.

Tucker, Sosan Martin, et all, (1999). Standar Perawatan Pasien Ed. V Hal 1-2, Jakarta,EGC.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar